Home

Awang Satyana : "Kubah Sangiran"

                                             Sangiran Dome, Central Java : Mud Volcano Eruption,
                                  Demise of Homo erectus erectus and Migration of Later Hominids

SANGIRANABSTRACT

 
The Sangiran Dome, located 12 kms to the north of Surakarta , Central Java is a famous site in the Quaternary geology due to it exposes remains of hominid fossils and mammals of Pleistocene in ages. The origin of the Sangiran Dome has been interpreted in variousways. It is an anticline forming a dome at the southern margin of the Kendeng Zone,  a compressive feature related to collapse of the old Lawu volcanic cone, anincipient volcano, or a diapiric shale flow.
 
The dome deformation, presences of several small saline water seeps and methane gas bubbles at the center of the dome and exotic blocks of metamorphic basements, Late Eocene limestone, polymict conglomerate identical to the varieties seen at Nanggulan, Karangsambung and Jiwo/Bayat, as well as Miocene limestone, Miocene and Pliocene marls; indicate that Sangiran Dome was a site of diapirism and mud volcano eruption now extinct. Saline water and gas seeps are common remnants of extinct or dormant mud volcanoes located along the Kendeng Zone from Central Java to the Madura Strait . Unusual presence of allochthonous blocks is considered as the erupted materials sourced from the subsurface. The diapiric deformation and eruption is considered took place between 0.7 and 0.5 Ma based on geochronological dating of  the Sangiran Dome.
 

Komentar Herman Moechtar :

Remains of Homo erectus erectus (called also He. trinilensis) in Sangiran area are found within lacustrine deposits of the upper part of Black Clays of the Pucangan Formation and fluvio-deltaic deposits of the lower part of the Kabuh Formation. Fission track datingand paleomagnetic stratigraphy of the deposits resulted in ages from 1.16 to 0.78 Ma (Pleistocene) . However, the age range of Home erectus erectus has been a matter of debate, the ages ever proposed ranged from 1.7 to 0.5 Ma. 
 
It looks that termination of Homo erectus erectus was coeval with the eruption of Sangiran mud volcano, indicating the demise of this hominid. The eruption is considered to be catastrophic based on an analogue with present mud volcano eruption of similar type worldwide. The eruption probably was also a reason why later forms of hominidsdid not develop in Sangiran area but migrated northeastward following the Solo River downstream to the areas of  Sambungmacan, Trinil, Ngawi, and Ngandong where later forms of Homo erectus (Homo erectus ngandongensis / He. soloensis ever lived until the latest  Pleistocene (0.2 or 0.1 Ma). 
 
The paper addresses the example of implications of geologic processes to the early life of human (hominids). It is best studied in the Kendeng Zone where mud volcano eruption and habitats of hominids were relative in space and time.


Kembali ke masalah hubungannya dengan al Kitab. Betul dan saya setuju pada kutipan kutipan dalam al Kitab sehubungan dengan keajaiban yang terjadi tersebut ada kaitannnya dan tersirat. Hanya saja, berat rasanya apabila segala sesuatu penafsiran ilmu pengetahuan khususnya kebumian kita kaitkan kepada kepercayaan. Hanya itu saja. Dan saya yakin apabila kita mengikuti ajaran agama, kita akan selalu diberi kemudahan. Pengalam menunjukkan bahwa, semakin banyak ilmu pengetahuan yang kita miliki yang kita berikan pada orang lain, ternyata pengetahuan kita akan bertambah dan diberi kemudahan (itu saya rasakan sekali.....) .
 
Menurut saya paper Kubahnya pak Awang bagus, meski pendekatannya berlatarbelakang lain, namu menurut hemat saya sekala waktunya lebih panjang dari Milankovitch. Dan wajar kalau tektonik akan memberikan dampak yang besar ketika itu, dan saya sebut itu sebagai peristiwa yang sifatnya episodik yaitu berupa batas atau setara dengan gabungan sikus (composite cycles of Milankovitch) . Sebagai tambahan, cyclostratigraphy yang sudah menuju ke astrostratigraphy sangat berkembang pesat akhir-akhir ini. Sayangnya, sekali lagi sangat  disayangkan karena ahligeologi tidak memanfaatkannya khususnya di Indonesia .

Mengenai kubah Sangiran, abstraknya bagus dan dapat dipertanggungjawakan. Tentunya semua itu ada dasarnya. Hanya saja pendekatan yang dilakukan agak berbeda. Namun demikian, dalam suatu penelitian metoda apapaun yang digunakan dengan pendekatan yang berbeda, tentu akan menghasilkan sesuatu yang saling mendukung. Hanya saja, kita harus pandai-pandai mengkorelasikannya. Tidak ada kesalahan dari suatu hasil penelitian masalah kebumian yang diperbuat, apabila dilakukan secara  benar. Yang ada adalah kesalahan dari masing-masing individu yang tidak mau memahami orang lain tapi ingin dipahami orang.
 
Betul yang dikatakan pak Awang, dalam ruang dan waktu apa kita menjabarkan hasil suatu penelitian. Pada prinsipnya saya mengunakan pemahaman bahwa suatu peristiwa bumi itu ada awal dan akhir yang memberi dampak berubahnya lingkungan. Peristiwa tersebut saya bedakan mulai dari ordo  terkecil yaitu 1 hari dan 1 tahun (ordo berapa ? saya masih belum mengetahuinya yaitu ordo 1 hari dan ordo 1 tahun), dan ordo 7 (siklus Precession) adalah sebagai ordo terkecil yang telah disepakati sehingga kemungkinan masih banyak lagi siklu-siklus yang lain diantaranya. Sedangkan gabungan siklus adalah berkaitan dengan Sekala Wilson hingga sekuen Exxon (sekuen-stratigrafi ). Menurut saya kejadian tersebut dapat dibedakan menjadi yang bersifat periodik dan episodik, dimana priodik itu diartikan sebagai kejadian yang terus menerus dengan sesatan yang tidak besar. Sedangkan episodik merupakan gabungan periodik yang dapat dibedakan. Dalam kurva sea-level Haq dkk (1988)., ilustrasi tersebut dapat dijelaskan secara baik meski perlu direvisi.
 
Yang menarik buat saya adalah keteraturan dari peristiwa tersebut di atas, dimana di dalam siklus yang terbesar terkandung siklus yang lebih kecil. Artinya, kita akan dapat membedakan ordo dari peristiwa bumi dengan mendekatan hirarki siklus yang memilki waktu yang terkait terhadap genetika dan prosesnya.
 
Saya pernah bergabung dengan kelompok Geodinamik ITB (MT. Zen dkk.), dimana masing-masing anggotanya memberi sumbangan pemikiran tentang arti geodinamika.. Pada kesempatan tersebut (1998 ?) saya memaparkan mengenai konsep saya: Periodik dan episodik proses dinamika peristiwa bumi ditinjau dari aspek sedimentologi dan stratigrafi. Saya simpulkan bahwa perjalanan bumi itu ibarat mesin mobil yang dihidupkan. Apabila mesin distarter, maka api mulai bekerja, minyak akan naik dan sebagainya. Sebaliknya apabila bumi di starter (dalam hal ini poros bumi berpindah posisi mengelilingi matahari), maka tektonik, muka laut, iklim, erupsi dan magmatism akan bereaksi. Kira-kira itulah maksud saya.(Semuanya pernah saya akukan penelitiannya mulai dari Eosen sampai Pliosen di 3 cekungan daerah Spanyol) dan geologi Kuarter hampir di seluruh Indonesia. Hasilnya, tentu saja mendukung konsep tersebut.
 
Tanggapan (Awang Satyana) :
 
Terima kasih atas ulasan Pak Herman. Memang dalam memahami siklus (kejadian berulang) kita membagi periode-periodenya ke dalam : (1) long term (milyar-juta tahun) ke dalamnya termasuk tectonic processes dan basin evolution, (2) short term (ratusan ribu-ribuan tahun) ke dalamnya termasuk siklus2 Milankovitch dan climatic phases, dan(3) historic term (seribu tahun -  < 1 hari) ke dalamnya termasuk episodes (bulan-seribu tahun), dan events (1 bulan - < 1 hari).
 
Dalam suatu wilayah pasti kita akan mendapatkan hasil tumpang tindih ketiga periode tersebut. Tetapi untuk endapan Holosen yang di mulai 0.01 Ma (10.000 tahun yang lalu) pasti kita hanya mendapatkan efek2 climatic changes, episodes, dan events. Untuk satu siklus terkecil Milankovitch pun kelihatannya belum terbentuk (siklus longitude of the perihelion 20.000 tahun).

Herman:
Tepat sekali apa yang dikatakan pak Awang. Prinsipnya memang pada Holosen rekaman satu kesatuan siklus kaitannya terhadap muka laut dan iklim tidak terbentuk karena proses siklusnya masih berlangsung. Tapi sebaliknya, tektonik dan erupsi kapan saja dapat terjadi. Kalau boleh saya menyimpulkan apa itu Holosen secara global, yaitu:
1. Awal Holosen adalah bagian tengah dari akhir siklus Precession yang puncaknya kurang lebih 9000 BP. Ketika itu diikuti oleh puncak dari pencairan es (interglasial) dan muka laut maksimum. Setelah itu muka laut turun kembali dan iklim mengarah kering. Pada 2000 th. mendatang, kondisi muka laut semakin turun dengan kondisi kering  menuju minimun.
2. Awal pembentukan siklus ditandai oleh global sea-level still stand (low sea level) yang diikuti oleh muka laut naik (18.000 BP hingga 9000 BP). Kondisi tersebut ditandai oleh kondisi iklim minimummenuju maksimum
3. Sea-level tidak akan pernah dapat dikorelasikan dari waktu ke waktu pada wilayah berbeda, karena setiap daerah memiliki tingkat kestabilan tektoniknya termasuk aktifias volkaniknya. Oleh karena itu, dapat menimbulkan perbedaan interpertasi apabila dikorelasikan dari satu tempat ke tempat lainnya . Namun demikian, semua itu dapat diredam apabila kita mehami apa yang dimaksud dengan rangkaian bangunan dari stratigrafi lokal, regional, dan global yang hingga saat ini belum diperhataikan khusus nya oleh ahli stratigrafi.   
 
 
Itu hanya sedikit ulasan mengenai Holosen dari saya. Satu catatan yang menarik dalam pemahaman tersebut adalah, bahwa evaluasi tersebut saya yakin sangat dapat apat diterapkan penenlitiannnya di Indoensia karena kita memliki wilayah dengan sirkulasi iklim tropis yang baik dan berkesinambungan yang tidak dimiliki wilayah lain. Pak Awang memang betul, untuk short-term hanya iklim dan sea-level sebagai indikatornya, dan itu terjadi dimana-mana mulai dari tiinggian hingga deep sea. Tapi tektonik dan erupsi hanya pada tempat tempat tertentu saja.
 

Semoga Bermanfaat

 

Login Form

Anda Pengunjung ke

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini81
mod_vvisit_counterKemarin91
mod_vvisit_counterMinggu Ini466
mod_vvisit_counterMinggu Kemarin393
mod_vvisit_counterBulan Ini1664
mod_vvisit_counterBulan Kemarin2214
mod_vvisit_counterSeluruhnya65178

Online (20 minutes ago): 2
IP Anda: 54.226.148.122
,
Hari Ini: Jul 24, 2014