Home

CATATAN RINGKAS TENTANG SEJARAH TERBENTUKNYA KEPULAUAN INDONESIA


Oleh:  Prof. DR. C. Danisworo, (UPN VeteranYogyakarta-Indonesia).
Editor : Dr. Said Aziz, M.Sc (INAQUA-Jakarta)


Untuk mengawalinya saya akan sedikit menyampaikan latar belakang kapan dan bagaimana Kepulauan Indonesia yang kita cintai ini terbentuk.
Indonesia dikenal sebagaimana kepulauan, namun bagaimana dan kapan sebetulnya Kepulauan Indonesia itu terbentuk belum banyak yang mengetahui secara pasti. Untuk mengetahui itu maka marilah kita menengok kembali kapan bumi ini terbentuk.

Oleh para pakar diperkirakan bumi terbentuk sekitar  4,5 milyar tahun yang lalu, walau pun demikian angka tersebut masih dan akan selalu diperdebatkan, karena untuk mengetahui umur bumi secara pasti tidaklah mungkin dilakukan dengan tepat, tidak seorangpun tahu kapan bumi itu terbentuk. Kendati demikian, diperkirakan sekitar 300-200 juta tahun yang lalu, bumi ini pada mulanya hanya ada satu benua tua yaitu Pangea yang terdiri dari dua benua yang  lebih kecil yaitu benua Eurasia di utara dan Gondwana di selatan. Seiring dengan perjalanan waktu, kedua benua tua ini terpecah-pecah menjadi lempengan-lempengan benua kecil atau renik yang sebagian kemudian menyatu kembali. Proses penyatuan benua-benua itu dikenal dengan teori Apungan Benua (Continental Drift/Plate Tectonic) berupa benturan (collision) yang mengakibatkan penunjaman (subduction), penindihan   (obduction) atau benturan (transduction) antar lempeng. Salah satu dari hasil penyatuan-penyatuan kembali lempengan-lempengan benua kecil tadi membentuk Kepulauan Indonesia. Secara umum Kepulauan Indonesia merupakan pertemuan tiga lempeng benua, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Eurasia.  Lempeng Indo-Australia bergerak ke timur laut dengan kecepatan 7,7 cm/tahun,  Lempeng Pasifik bergerak ke barat laut dengan kecepatan 10,2 cm/tahun, sedangkan Lempeng Eurasia relative tidak bergerak. Di Indonesia pergerakan benturan itu dapat memunculkan gunungapi-gunungapi dari ujung utara Pulau Sumatra, ke Pulau Jawa, Pulau Bali terus ke timur membelok ke Maluku.  Oleh karena itu bukti-bukti pergerakan benturan yang  sampai dengan sekarang masih terus berlangsung tersebut dapat dikenali dengan baik di Indonesia. Munculnya gunung api-gunung api ini di  satu sisi sangat berguna bagi kehidupan manusia antara lain ditemukannya sumber-sumber mineral, menyuburkan tanah pertanian, dan lain-lain. Namun di sisi lain dapat menimbulkan malapetaka antara lain berupa letusan, awan panas, gempa bumi, banjir lahar, longsoran dans ebagainya. Akibat lain dari pergerakan itu di Indonesia sering kali dirasakan terjadinya gempa bumi tektonik yang dapat membahayakan bagi peradaban kehidupan manusia.
Sebagai contoh, gempa tektonik terbesar di dunia terjadi 24 Desember 2004 di Aceh (9.0 SR) yang diikuti dengan tsunami yang maha dahsyat dalam abad ini, lebih dari 200 000 jiwa meninggal dunia dua pertiga kota Banda Aceh, sebagian pantai barat sumatera bahkan sampai ke Thailan, Srilangka dan India terkena air bah tsunami. Di Aceh saja ribuan rumah, masjid kantor jembatan dll hancur di terjang gempa dan disapu oleh air bah tsunami yang tingginya sampai 7 meter.  Hal ini benar2  menjadi pelajaran berharga bagi kita semua dan perlu untuk mengetahui ttg keadaan alam disekitar kita, agar kita bias mempersiapkan diri jika hal-hal seperti ini terjadi.
Geodinamika tersebut merupakan salah satu dari beberapa factor penyebab kompleks nya permasalahan Geologi Kuarter di Kepulauan Indonesia.  Permasalahan-permasalahan yang menarik missal nya mengenai pasang-surut muka air laut jaman pengesan (glacial) dan antar-pengesan (interglacial), masalah paparan dan kondisi pantai,  pengendapan dan perubahan garis pantai dengan undak-pantainya, beserta endapan mineral plaser (placer) dan terumbu-terumbu karangnya, sungai purba beserta undak-undak sungai dan endapan-endapannya, penanggalan berbagai lapisan sedimen, proses-proses eksogenik (pelapukan, erosi, transportasi, pengendapan, dan longsoran), kegiatan neotektonik, volkanisme, rekonstruksi iklim purba (paleoclimate), pemanasan bumi serta akibatnya terhadap banyak gejala geologi, dinamika bumi dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia, pengaruh kegiatan manusia terhadap proses Geologi Kuarter, jejak-jejak serta perkembangan kehidupan dan migrasi, evolusi manusia dan kehidupan lainnya.
Demikian pula keberadaan kerajaan-kerajaan lama di Indonesia, terutama di Jawa, keberadaan candi Borobudur dan candi-candi lainnya, sangatlah perlu dikaji bagaimana hubungan antara daya dukung alam sekitarnya, misalnya peranan Geologi Kuarter terhadap perkembangan manusia dalam bentuk  koridor-koridor morfologi berupa daratan pantai, lembah dan daratan antar pegunungan, kaki gunungapi, dan daerah sekitar danau. Proses-proses dan fenomena Geologi Kuarter di Indonesia tersebut perlu dilakukan riset atau telaah dengan upaya yang lebih intensif dan terencana, agar kita dapat mengetahui tentang berbagai siklus yang terjadi pada masa dulu untuk mengantisipasi dimasa mendatang demi kepentinganumatmanusia. (Oktober 2012#Said Aziz)

 

 

 

Login Form

Anda Pengunjung ke

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini66
mod_vvisit_counterKemarin91
mod_vvisit_counterMinggu Ini451
mod_vvisit_counterMinggu Kemarin393
mod_vvisit_counterBulan Ini1649
mod_vvisit_counterBulan Kemarin2214
mod_vvisit_counterSeluruhnya65163

Online (20 minutes ago): 1
IP Anda: 54.196.194.204
,
Hari Ini: Jul 24, 2014